Halo.....
Saya pindah ke sini. Kalau mau tau alasannya, silakan baca ini.
Kalau mau protes, silakaan layangkan di blog baru :)
Salam,
Rime.
kopipakegula: blognya si rime
Selasa, 11 Januari 2011
Rabu, 05 Januari 2011
Owa Jawa dan Nostalgia Sancang
Kata Anil, bakal ada bule di Forum Hijau Bandung edisi Senin ini. Info itu membuat saya jadi pengen ikutan pertemuan FHB yang diselenggarakan 2 minggu sekali di hari Senin itu. Bukan "bule"-nya yang bikin saya pengen dateng (sori ya, saya ga sekampungan itu hehehe :p), tapi saya pengen dengar hasil penelitian dia yang katanya genrenya lingkungan. *Hahaha, genre... emangnya film?*
Tapi ternyata si bule (yang mungkin ganteng itu) ga dateng, sehingga porsinya dilimpahkan kepada teman perempuannya, yang juga seorang bule asal Amerika Serikat. Namanya Melissa Reisland, seorang mahasiswi University of Wisconsin, yang saat ini sedang menyelesaikan disertasinya tentang Owa Jawa (Hylobates moloch) di Cagar Alam Leuweung Sancang, Garut.
Wuuuuaaaaah... saya demen buanget nih... (bukan Melissanya ya, tapi Owa Jawa-nya... ekeu bukan lesbong kali... *pake gaya bencong*)
| Melissa Reisland |
| Fariz, sang moderator yang merangkap penterjemah |
| Owa jawa betina bernama Amelia :) |
Sayangnya Melissa ga banyak cerita tentang penelitiannya, tapi lebih banyak cerita tentang pengalamannya bertemu hewan ini dan itu. Dari hasil penelitian sementaranya, didapat bahwa populasi Owa Jawa di Cagar Alam Leuweung Sancang hanya sekitar 15 ekor! Faktor utama penyebab degradasi populasi ini adalah penebangan liar di dalam cagar alam. Sedangkan dari data hasil pengamatan perilaku, disimpulkan bahwa intensitas kegiatan manusia di dalam hutan telah mengubah perilaku Owa Jawa. Semakin banyak orang masuk ke dalam hutan dan bikin keributan, maka semakin jarang Owa Jawa makan dan melakukan traveling dari pohon ke pohon. Tentang apakah hal ini mempengaruhi populasi Owa Jawa atau tidak, dia tidak menjelaskan.
Sebenarnya sisa waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk bertanya ini-itu tentang Sancang dan Owa Jawa kepada Melissa. Tapi sayangnya hampir semua orang malah memberi pertanyaan OOT, seperti insenerator, produk daur ulang, dan lain-lain. Kasian si Melissa-nya... Walaupun dia orang Amerika, bukan berarti dia ngerti semua permasalahan lingkungan.
Sementara mereka ngasih pertanyaan yang aneh-aneh, dan si Melissanya pun memutar otak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh itu, pikiran saya melayang ke tahun 2005 silam. Itu adalah waktu di mana saya dan beberapa teman saya luntang-lantung main ke Sancang. Dulu rencananya lokasi ini akan dipakai untuk pelantikan ospek anak-anak angkatan 2004. Jadi rencananya setelah disiksa 14 hari di kota, mereka akan menikmati indahnya alam Sancang selama 3 hari. Tapi sayang sungguh sayang.... setelah semua persiapan dilakukan, tiba-tiba ospeknya dibekukan karena ada anak yang mengadu tanpa alasan jelas kepada mamanya yang juga merupakan dosen di ITB. Sia-sia sudah semua perjuangan tim survey.... :'(
Saat itu saya baru tingkat 2. Kayanya sekarang di ITB udah ga ada deh ospek-ospekan macam ini.
Sayangnya dulu teknologi belum secanggih sekarang, jadi saya ga sempat memback-up foto-fotonya. Saya hanya punya sedikit foto saat jadi tim survey.
![]() |
| Wildan, Arief, Angga, Rime, Novi, Rahma |
![]() |
| Resmi... kita kaya anak ilang |
![]() |
| Dudul... malah membelakangi cahaya :p |
![]() |
| Walaupun menghadap cahaya, yang mukanya keliatan cuma Rahma, karena kulit kita pada gosong :) |
Ya ampun... cupu-cupu banget ya.... Saya jadi pengen ke Sancang lagi.. Siapa tau saya bisa ketemu Amelia, Tono, Tini, dan Udin :D
Labels:
lingkungan,
report,
sok biologi,
teman-teman,
vacation
Selasa, 04 Januari 2011
The Fungus
Hari ini saya agak bingung... apa saya harus bersyukur atau malah jadi tambah parno. Hari ini dokter ngecek lagi mata saya. Ternyata saya ga katarak, tapi mengalami kerusakan kornea karena jamur. Si dokternya juga kayanya agak bingung tentang kondisi mata kiri saya ini.
Kerusakan kornea akibat jamur disebut keratomikosis. Pada beberapa kasus, hal ini terjadi akibat penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid. Kemungkinan besar inilah yang terjadi pada mata saya... Karena gangguan penglihatan pada mata kiri saya terjadi sehari setelah saya pakai obat tetes mata.
Setelah googling, saya dapat info bahwa kalau infeksi jamurnya belum dalem, mata saya masih bisa disembuhkan dengan obat dan vitamin. Tapi kalau udah dalem, berarti harus transplantasi kornea, yang mana itu akan susah banget karena jumlah donor kornea jauh lebih sedikit dibanding jumlah orang yang membutuhkan.
Mudah-mudahan infeksinya belum sampe dalem deh... Doakan saya ya teman-teman :)
PS: Gambar di atas adalah campuradukan dari gambar ini dan ini (maaf saya ngopi tanpa ijin :p)
![]() |
| Keratomikosis lebay by Rime |
Kerusakan kornea akibat jamur disebut keratomikosis. Pada beberapa kasus, hal ini terjadi akibat penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid. Kemungkinan besar inilah yang terjadi pada mata saya... Karena gangguan penglihatan pada mata kiri saya terjadi sehari setelah saya pakai obat tetes mata.
Setelah googling, saya dapat info bahwa kalau infeksi jamurnya belum dalem, mata saya masih bisa disembuhkan dengan obat dan vitamin. Tapi kalau udah dalem, berarti harus transplantasi kornea, yang mana itu akan susah banget karena jumlah donor kornea jauh lebih sedikit dibanding jumlah orang yang membutuhkan.
Mudah-mudahan infeksinya belum sampe dalem deh... Doakan saya ya teman-teman :)
PS: Gambar di atas adalah campuradukan dari gambar ini dan ini (maaf saya ngopi tanpa ijin :p)
Labels:
cerita,
seni,
serius nih,
tidaksepertibiasanya
Senin, 03 Januari 2011
Katarak
Saya ga bisa tidur.... banyak sekali pikiran yang melintas di benak saya. Salah satunya tentang mata kiri saya.
I think I have a cataract in my left eye. Ini belum tentu bener sih, masih harus tunggu diagnosa dokter dulu. Tapi dari hasil penelurusan di internet sih, sepertinya ini murni katarak.
Ga usah kaget, hehehe... Kayanya ini adalah pelajaran buat saya karena saya dulu bandel pake soft lens. Seharusnya saya menghindari segala macam tindakan yang memungkinkan masuknya bakteri ke tubuh saya, apalagi saya bergolongan darah B (golongan darah yang kata orang-orang "nyebelin" hehehe...). Saya pernah baca, bahwa dibandingkan dengan semua golongan darah, orang dengan golongan darah B lebih rentan terhadap serangan bakteri.
Pasca lepas dari soft lens, mata saya sering kena inflamasi. Dokter ngasih saya obat tetes yang mengandung steroid. Keesokan harinya pandangan mata saya jadi buram seburam-buramnya, dan sensitif terhadap cahaya sesensitif-sensitifnya yang pernah saya alami.
Kayanya sih penyebabnya itu .Yang sekarang jadi pikiran adalah.............. kira-kira kalau mau operasi katarak itu ngabisin duit berapa ya? Baca-baca di blog orang sih katanya biayanya berkisar antara 8-15 juta gitu. Ada yang tau pastinya ga?
*minimal saya jadi sedikit lega setelah posting tulisan ini*
I think I have a cataract in my left eye. Ini belum tentu bener sih, masih harus tunggu diagnosa dokter dulu. Tapi dari hasil penelurusan di internet sih, sepertinya ini murni katarak.
Ga usah kaget, hehehe... Kayanya ini adalah pelajaran buat saya karena saya dulu bandel pake soft lens. Seharusnya saya menghindari segala macam tindakan yang memungkinkan masuknya bakteri ke tubuh saya, apalagi saya bergolongan darah B (golongan darah yang kata orang-orang "nyebelin" hehehe...). Saya pernah baca, bahwa dibandingkan dengan semua golongan darah, orang dengan golongan darah B lebih rentan terhadap serangan bakteri.
Pasca lepas dari soft lens, mata saya sering kena inflamasi. Dokter ngasih saya obat tetes yang mengandung steroid. Keesokan harinya pandangan mata saya jadi buram seburam-buramnya, dan sensitif terhadap cahaya sesensitif-sensitifnya yang pernah saya alami.
Kayanya sih penyebabnya itu .Yang sekarang jadi pikiran adalah.............. kira-kira kalau mau operasi katarak itu ngabisin duit berapa ya? Baca-baca di blog orang sih katanya biayanya berkisar antara 8-15 juta gitu. Ada yang tau pastinya ga?
*minimal saya jadi sedikit lega setelah posting tulisan ini*
Labels:
cerita,
serius nih
Sabtu, 01 Januari 2011
A Little Story about 2010: WWF Forest Friend
*Menyambut tahun 2011, semua orang menulis tentang refleksi kehidupan mereka di tahun 2010. Rasanya saya juga perlu membuatnya.*
Maka dibuatlah blog jadi-jadian ini dengan penuh cinta dan perjuangan. Saya begitu menikmati mengisi blog ini. Sampai akhirnya pada waktu yang saya tunggu-tunggu, saya bisa tersenyum lebar saat saya mendapati bahwa blog jadi-jadian ini terpilih sebagai blog terfavorit para juri :D
Setelah hari itu, kehidupan pun menjadi sedikit lebih sulit. Selama tiga bulan, hari-hari saya sarat dengan atmosfer kompetisi. Aturan mainnya sederhana, kita harus mengumpulkan sebanyak mungkin voter jika mau jadi pemenang. Sebenarnya saya kurang suka dengan sistem kompetisi semacam ini, karena sifatnya kurang objektif (sama lah seperti pemilu legislatif di negara ini :p). Tapi karena saya sudah terlanjur melewati separo jalannya, saya hajar aja... Kalau bahasa Sunda-nya mah "kagok edan" ("tanggung gila") :p
Untuk kampanye online ini, saya dipasangkan dengan seorang gadis Jerman bernama Lena Gottschalk, yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Selain di Indonesia, lomba blog ini juga diselenggarakan di Jerman, dan finalis terpilihnya dipasang-pasangkan dengan finalis dari Indonesia untuk berkampanye dalam mengumpulkan vote. Tiga pasang finalis ini kemudian mendapatkan alamat miniblog di situ WWF Jerman. Dengan kata lain, di sinilah arena unjuk gigi untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya simpati pembaca.
Berdua kami membangun miniblog sahabat pena kami. Saya agak kesulitan menulis suatu postingan dalam Bahasa Inggris. Kalau nulis dengan struktur ga jelas seperti blog yang sedang Anda baca ini sih gampang... Yang bikin sulit adalah saya harus menulis "surat sahabat pena" tapi juga harus bisa menginspirasi orang-orang yang baca untuk mencintai hutan dan lingkungan.
Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya saya pun terbiasa :)
Kesulitan yang lebih besar lagi adalah saat saya harus meyakinkan sebanyak mungkin orang untuk mau mem-vote kami. Dengan mem-vote salah satu pasangan finalis, berarti si voter telah berkontribusi dalam penanaman 10 pohon di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Saya bilang ini sulit, karena bagi sebagian besar orang Indonesia, menyumbang 10 pohon itu bukan suatu keuntungan bagi mereka. Siang malam saya mencoba mengajak ceting semua orang di Facebook dan minta mereka untuk mem-vote kami. Beneran deh saat itu kayanya urat malu saya sudah putus sebelah :)
Dari pengalaman ngobrol dengan orang-orang ga dikenal ini, saya menemukan keberagaman pola pikir yang menurut saya lucu-lucu:
- "Bumi ini sudah dijaga dan diatur oleh Tuhan... Kalau terjadi kerusakan, dia bisa mengembalikan kondisinya sendiri.. Manusia tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Dari pada kamu sibuk kampanye, mendingan kamu beribadah, minta Bumi ini segera diperbaiki." (Ya elah, jodoh juga ada di tangan Tuhan, tapi kalau kita tidak berusaha, ya kita ga akan mendapatkannya. Berdoa itu perlu, tapi kita juga harus berusaha kaleeeeee....)
- "Saya ga mau mendukung program seperti ini.. Karena ini hanya menguntungkan pihak tertentu saja." (Lah, kalau saya berhasil ngumpulin ribuan pohon untuk ditanam di lahan kritis, yang diuntungkan itu siapa? Justru di sini saya lah yang "dirugikan", karena saya bekerja tanpa dibayar)
- "Saya ga mau dukung beginian... Saya maunya mendukung secara langsung... yah, semacam jadi aktivis gitu lah...." (Ini paling lucu nih... Dengan mendukung pencapaian suatu visi ideal, itu sudah dihitung sebagai aktivisme. Mungkin yang beliau maksud dengan aktivis itu adalah orang-orang yang suka demo bawa-bawa spanduk dan bakar-bakan ban bekas.)
- "Saya ga mau dukung, karena saya ga percaya global warming." (Believe it or not, saya kemudian menjelaskan segala macam tentang global warming selama 2 jam penuh kepada orang ini, mulai dari siklus karbon sampai teori konspirasi yang ada. Akhirnya orang ini menyerah... tapi tetep aja dia ga mau nge-vote -_-)
Tapi tentu saja saya harus menanggapi orang-orang ini dengan sehalus mungkin. Walaupun itu sangat sulit bagi saya yang terbiasa mengekspresikan sesuatu secara blak-blakan -_- Sabaaaaar ma.... sabaaaaarrr....
Itu belum apa-apa. Masih ada kesulitan yang lebih besar lagi. Yaitu ketika saya dihadapkan pada kondisi dengan skor voting paling rendah, sementara pasangan finalis lain sudah melesat jauh mendahului saya dengan selisih 1000 vote. Rasanya, sulit sekali untuk bangkit :(
Tapi kami terus berusaha.... dan inilah buah dari kerja keras kami......
Yaaaaay..... Yes... we won...! Jujur saja, saya senang sekali karena saya dapat hadiah jalan-jalan ke Riau dan Jerman. Saya juga senang karena berhasil mengumpulkan 28.330 pohon untuk ditanami di habitat Harimau dan Gajah Sumatera, di Taman Nasional Tesso Nilo. Tapi yang lebih membuat saya senang adalah karena saya mampu mendorong diri saya sendiri untuk melawan rasa malas dan keputusasaan saat saya terpuruk. Itu jauh lebih berharga daripada tiket bolak-balik ke Jerman dan beli 28.330 buah bibit pohon :)
Well, ternyata benar apa kata leluhur kita. Kalau kita mau berusaha, pasti ada jalan untuk berhasil.... dan orang jujur akan selalu mujur, hehehe.... :D
Sampe lupa.... saya mengucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman yang telah membantu saya mengupulkan banyak pohon.... Manfaatnya Insya Allah akan kembali kepada teman-teman kok, tinggal tunggu waktunya saja :)
Bagaimana dengan teman-teman? Apa pengalaman teman-teman yang paling menarik selama tahun 2010? Sharing-sharing ya :D
Tahun 2010 adalah tahun yang cukup melelahkan bagi saya... tapi bukan lelah sembarang lelah. Ini adalah lelah yang membuahkan hasil. Saya punya banyak cerita yang tidak sempat saya tuliskan di blog ini karena hiatus panjang saya selama 3 tahun. Saya ingin menceritakan semuanya, tapi daripada semua orang jadi bosan, saya hanya akan ceritakan satu cerita saja. Satu cerita yang menurut saya paling menarik dan paling heboh, yaitu tentang WWF Forest Friend.
Diawali dengan sesuatu yang tidak biasa.... Saya lupa tepatnya, pokoknya di sekitar bulan April 2010, entah karena kesambet apa, saya iseng membuka akun email Yahoo! yang udah seabad ga saya buka. Bagi saya, Gmail dan Yahoo! bagaikan Facebook dan Friendster... Begitu kita asyik dengan hal baru yang lebih inovatif, maka yang lama cenderung ditinggalkan...
Dan terberkatilah saya saat itu. Saya kebetulan membaca sebuah pengumuman tentang WWF Forest Friend. Intinya ini adalah lomba kampanye lingkungan di dunia maya, yang diawali dengan kompetisi blog, dan dilanjutkan dengan voting online.
![]() |
| Wow, Jerman.... sangat menggiurkan.. slrup.... |
Tanpa merasa ada harapan sedikit pun untuk menang, saya iseng mendaftarkan diri di kompetisi ini. Kebetulan saat itu usia saya masih 24, jadi masih bisa berpartisipasi di kompetisi ini (karena masih masuk dalam kategori "remaja" hehehe...). Motivasi terbesar saya mengikuti kompetisi ini adalah murni untuk berbagi. Kalau ternyata saya sampai menang, saya anggap itu sebagai bonus :)
Maka dibuatlah blog jadi-jadian ini dengan penuh cinta dan perjuangan. Saya begitu menikmati mengisi blog ini. Sampai akhirnya pada waktu yang saya tunggu-tunggu, saya bisa tersenyum lebar saat saya mendapati bahwa blog jadi-jadian ini terpilih sebagai blog terfavorit para juri :D
Setelah hari itu, kehidupan pun menjadi sedikit lebih sulit. Selama tiga bulan, hari-hari saya sarat dengan atmosfer kompetisi. Aturan mainnya sederhana, kita harus mengumpulkan sebanyak mungkin voter jika mau jadi pemenang. Sebenarnya saya kurang suka dengan sistem kompetisi semacam ini, karena sifatnya kurang objektif (sama lah seperti pemilu legislatif di negara ini :p). Tapi karena saya sudah terlanjur melewati separo jalannya, saya hajar aja... Kalau bahasa Sunda-nya mah "kagok edan" ("tanggung gila") :p
Untuk kampanye online ini, saya dipasangkan dengan seorang gadis Jerman bernama Lena Gottschalk, yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Selain di Indonesia, lomba blog ini juga diselenggarakan di Jerman, dan finalis terpilihnya dipasang-pasangkan dengan finalis dari Indonesia untuk berkampanye dalam mengumpulkan vote. Tiga pasang finalis ini kemudian mendapatkan alamat miniblog di situ WWF Jerman. Dengan kata lain, di sinilah arena unjuk gigi untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya simpati pembaca.
Berdua kami membangun miniblog sahabat pena kami. Saya agak kesulitan menulis suatu postingan dalam Bahasa Inggris. Kalau nulis dengan struktur ga jelas seperti blog yang sedang Anda baca ini sih gampang... Yang bikin sulit adalah saya harus menulis "surat sahabat pena" tapi juga harus bisa menginspirasi orang-orang yang baca untuk mencintai hutan dan lingkungan.
Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya saya pun terbiasa :)
Kesulitan yang lebih besar lagi adalah saat saya harus meyakinkan sebanyak mungkin orang untuk mau mem-vote kami. Dengan mem-vote salah satu pasangan finalis, berarti si voter telah berkontribusi dalam penanaman 10 pohon di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Saya bilang ini sulit, karena bagi sebagian besar orang Indonesia, menyumbang 10 pohon itu bukan suatu keuntungan bagi mereka. Siang malam saya mencoba mengajak ceting semua orang di Facebook dan minta mereka untuk mem-vote kami. Beneran deh saat itu kayanya urat malu saya sudah putus sebelah :)
Dari pengalaman ngobrol dengan orang-orang ga dikenal ini, saya menemukan keberagaman pola pikir yang menurut saya lucu-lucu:
- "Bumi ini sudah dijaga dan diatur oleh Tuhan... Kalau terjadi kerusakan, dia bisa mengembalikan kondisinya sendiri.. Manusia tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Dari pada kamu sibuk kampanye, mendingan kamu beribadah, minta Bumi ini segera diperbaiki." (Ya elah, jodoh juga ada di tangan Tuhan, tapi kalau kita tidak berusaha, ya kita ga akan mendapatkannya. Berdoa itu perlu, tapi kita juga harus berusaha kaleeeeee....)
- "Saya ga mau mendukung program seperti ini.. Karena ini hanya menguntungkan pihak tertentu saja." (Lah, kalau saya berhasil ngumpulin ribuan pohon untuk ditanam di lahan kritis, yang diuntungkan itu siapa? Justru di sini saya lah yang "dirugikan", karena saya bekerja tanpa dibayar)
- "Saya ga mau dukung beginian... Saya maunya mendukung secara langsung... yah, semacam jadi aktivis gitu lah...." (Ini paling lucu nih... Dengan mendukung pencapaian suatu visi ideal, itu sudah dihitung sebagai aktivisme. Mungkin yang beliau maksud dengan aktivis itu adalah orang-orang yang suka demo bawa-bawa spanduk dan bakar-bakan ban bekas.)
- "Saya ga mau dukung, karena saya ga percaya global warming." (Believe it or not, saya kemudian menjelaskan segala macam tentang global warming selama 2 jam penuh kepada orang ini, mulai dari siklus karbon sampai teori konspirasi yang ada. Akhirnya orang ini menyerah... tapi tetep aja dia ga mau nge-vote -_-)
Tapi tentu saja saya harus menanggapi orang-orang ini dengan sehalus mungkin. Walaupun itu sangat sulit bagi saya yang terbiasa mengekspresikan sesuatu secara blak-blakan -_- Sabaaaaar ma.... sabaaaaarrr....
Itu belum apa-apa. Masih ada kesulitan yang lebih besar lagi. Yaitu ketika saya dihadapkan pada kondisi dengan skor voting paling rendah, sementara pasangan finalis lain sudah melesat jauh mendahului saya dengan selisih 1000 vote. Rasanya, sulit sekali untuk bangkit :(
Tapi kami terus berusaha.... dan inilah buah dari kerja keras kami......
Well, ternyata benar apa kata leluhur kita. Kalau kita mau berusaha, pasti ada jalan untuk berhasil.... dan orang jujur akan selalu mujur, hehehe.... :D
Sampe lupa.... saya mengucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman yang telah membantu saya mengupulkan banyak pohon.... Manfaatnya Insya Allah akan kembali kepada teman-teman kok, tinggal tunggu waktunya saja :)
Bagaimana dengan teman-teman? Apa pengalaman teman-teman yang paling menarik selama tahun 2010? Sharing-sharing ya :D
Labels:
cerita,
lingkungan,
unforgetable
Jumat, 31 Desember 2010
My Spirited Wedding Souvenir (My Wedding Preparation - Part 7)
*Spesial (pake telor) untuk Asop yang penasaran dengan souvenir pernikahan saya :)*
Apa yang akan Anda ucapkan jika seseorang telah membuat Anda bahagia... atau melakukan apa yang Anda minta? Tentu saja Anda akan mengucapkan terima kasih. Dan sebagai makhluk beradab, sudah sepantasnya kita membalas kebaikan dengan kebaikan.
Saya rasa hukum kemanusiaan itu juga perlu diterapkan di acara pernikahan seseorang. Kita harus mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir ke acara kita, baik yang diundang maupun yang tidak. Sebagian orang menyimbolkan rasa terima kasih itu dengan memberi souvenir cantik. Memang ini tidak mutlak harus dilakukan, tapi menurut saya pribadi, ini penting untuk dilakukan karena bisa berfungsi sebagai pembangun modal sosial yang baik.
Tentu saja kalau kita tidak mampu melakukannya, kita tidak perlu memaksakan diri.
Banyak orang yang mengukur nilai sebuah souvenir pernikahan dari harganya. Tapi bagi saya harga bukanlah alat ukur yang baik, karena besar nominal uang sangatlah absurd dan relatif. Saya lebih suka menilainya dari segi manfaatnya. Semakin bermanfaat suatu barang, maka akan semakin bagus nilainya.
Di rumah saya saat ini terdapat sebuah onggokan souvenir yang keluarga saya dapatkan dari acara pernikahan teman dan famili. Hanya sebagian kecil souvenir yang benar-benar terpakai oleh kami. Dan dari onggokan souvenir yang tidak terpakai itu, saya ambil satu contoh yang menurut saya paling aneh:
Labels:
lingkungan,
my wedding,
seni
Langganan:
Entri (Atom)






