kopipakegula: blognya si rime
Senin, September 28, 2009
Senin, Agustus 24, 2009
Sambutan dari Rime yang Udah Seabad Ga Ngeblog
Diposkan oleh rime di 9:56 AM 1 komentar
Label: uneg-uneg
Jumat, April 11, 2008
Akhirnya Saya Menyerah
Ya, akhirnya saya menyerah.
Saya masih ingat perbincangan saya dengan Pak Ikram setahun yang lalu (mungkin), tentang "untuk apa pindah ke WP, kalau di Blogger kita masih bisa berkarya". Namun tampaknya sekarang saya menunjukkan sikap kontra terhadap pernyataan tersebut karena alasan tertentu.
Entah mengapa belakangan ini saya sangat kesulitan mengoperasikan blogger, terutama jika saya online di kampus. Saya kesulitan untuk mengisi kotak komentar, mengupload foto, atau bahkan sekedar log in.
Jadi, maafkan saya Blogger, saya akan pindah ke WP. Saya harap kamu tidak kecewa.
Bagi konsumen blog ini (komentator atau pencaci maki), silahkan membuka kelanjutan tulisan-tulisan tidak penting saya di sini. Terima kasih.
Diposkan oleh rime di 4:52 PM 7 komentar
Label: serius nih
Selasa, April 08, 2008
Otong, Radit, dan Jani
Ini adalah anggota keluarga baru yang dibebaskan dari sebuah toko akuarium di Ciwalk Bandung pada hari Selasa, 8 April 2008, pukul 19.00 WIB. Toko Akuarium "Gampang Ingat" tepatnya.
Ini adalah rumah baru mereka, akuarium peninggalan penghuni kos terdahulu
Peralatan dan bahan yang dibeli
Sang pembebas
Sang pembokat
Sang terbebas bernama Otong (Mas koki) serta Radit dan Jani (Moli marbel), dengan uang pembebasan sebesar Rp 6.000 untuk Otong dan Rp 2.400 masing-masing untuk Radit dan Jani
* * *
Diposkan oleh rime di 9:08 PM 11 komentar
Label: keluarga, unforgetable
Minggu, April 06, 2008
Drunken Monster, Kapan Sekuelmu Keluar?
Jika ini adalah kisah fiksi, mungkin reaksi saya akan datar-datar saja saat membaca buku ini, dan saya akan berkomentar "Belebai kali pun pengarangnya". Tapi ini kisah nyata, dan menurut saya, cerita-cerita yang ditulis dengan bahasa yang katanya bukan bahasa dewa ini sangat-sangat lucu untuk ukuran kisah nyata. Salah satu bagian yang paling lucu menurut saya adalah saat Pidi dan 10 karyawannya pergi ke Lembang untuk mandi air panas. Setelah berkata "Kami dari rombongan Rumah Sakit Jiwa" dan berbohong kepada petugas penjaga tiket dan satpam bahwa masih ada 2 bus lagi menuju ke sana, dia pura-pura menelepon:
"Sudah sampai mana, Pak? ... Cileuwi ... oh ... Ciluni ... Apanya...? Busnya? ... Digulingkan gimana, sih? ... Sama mereka digulingkan gitu? ... Ah ... Sekarang gimana? ... -dst"
Saya ga berani ngebayangin apa yang ada di benak si penjaga tiket dan satpam saat itu. Dan saya lebih ga berani lagi ngebayangin apa yang ada di benak si Pidi. Jail pisan, dan kepikiran pisan ngejailin orang-orang dengan cara itu.
Sejak mendapatkan buku ini dari Sawung, tidak ada yang bisa menghalangi saya untuk terus membaca buku ini sampai selesai, kecuali rasa kantuk tak tertahankan yang dianugerahi oleh Tuhan. Dan saya tertawa terguling-guling sampai sakit perut dibuatnya. Ini benar-benar kumpulan catatan harian yang layak dibaca oleh jiwa-jiwa yang merasa bosan dengan monotonnya kehidupan.
* * *
Oh, Pidi, saya mencintai kehidupanmu yang konyol, sama seperti mencintai The Panasdalam-mu yang lagu-lagunya dianggap tidak enak didengar dan tidak pasaran oleh narator di sampul buku bagian belakang. Saya telah terinspirasi secara sukses bahwa hidup memang hanya main-main :)
Diposkan oleh rime di 2:33 PM 12 komentar
Label: buku
Rabu, April 02, 2008
Dasar Babi Ngepet
Ini adalah contoh poster film yang menipu konsumen, dan gua adalah contoh konsumen yang kurang teliti menilik sebuah film sebelum menontonnya.
Jadi ceritanya hari Senin kemarin gua terjebak dalam gedung bioskop yang sedang memutar film bergenre horor-mirip-sinetron-Indosiar-padahal-awalnya-gua-kira-komedi. Atau dengan kata lain, gua rugi 10.000 hepeng gara-gara ga baca dulu resensi film ini sebelum nonton, atau at least liat dulu siapa SUTRADARANYA.
Tau film Genderuwo yang fenomenal itu kan? Itu tuh film yang oleh penulis dalam situs ini diberi rating 5000 kolor + nanah. Nah, ternyata film Skandal Cinta Babi Ngepet ini disutradarai oleh orang yang sama.
Selain desain posternya yang cenderung "sok-komedi", satu hal yang bikin gua tertipu adalah kehadiran Olga Syahputra dan Chika sebagai figuran di film ini. Gua pikir nih film lucu ancur gara-gara si Olga jadi babi, atau babinya jadi Olga, atau gimana lah. Eh ga taunya... 
Resmi lah gua nobatkan film ini sebagai film terancur tahun ini. 
Film ini sarat akan "unsur pemaksaan". Maksud gua sutradaranya terlalu maksain film ini agar berdurasi lama (90-120 menit) dengan memasukkan adegan-adegan yang tidak penting. Menurut gua, untuk menceritakan seorang gadis kota yang jatuh cinta pada pemuda desa dan akhirnya kawin lari dan terjerat dalam kemiskinan, tidak diperlukan adegan-adegan seperti gadis itu dan teman-temannya distrap di lapangan atau Olga yang mencubit pantat Bu Guru. Ach, buang-buang waktu aja.. mending kalo lucu. 
Gua ga puas mencela film ini sampai situ saja. Selain alurnya yang super buruk, bertele-tele, dan mudah ditebak, film ini dilengkapi dengan efek yang super buruk pula alias kampring. Adegan manusia berubah jadi babi atau babi berubah jadi manusia-nya dibantu oleh efek berupa keluarnya asap dari kiri dan kanan. Yo oloh tolong, sinetron Indosiar aja udah pake efek animasi (walaupun sama-sama kampring, hahaha...). 
Saking buruknya film ini, setengah dari jumlah penonton meninggalkan bioskop saat film ini masih diputar. Gua ga termasuk orang-orang itu, gua tetap di tempat duduk, karena pengen tau ending dari film kampring ini, hohoho...
* * *
Tapi hari ini ga terlalu buruk. Abis nonton film terkampring sepanjang masa ini, gua dan si pacar makan di Iga Bakar Si Jangkung alias Iga Bakar Cipaganti. Rasanya enak banget.. kalo kata Pak Bondan sih 'maknyusss...'. Keknya tiap kali dikecewakan oleh film-fim kampring saat nonton di Ciwalk, gua bakal selalu mengobati kekecewaan gua dengan makan di sini (apalagi kalo ditraktir, kyaaa... kyaaa...)
Supaya kalian ngiri, nih gua kasih fotonya..
Ngiler kan? hehehehe...
Diposkan oleh rime di 4:54 PM 13 komentar
Label: kuliner, resensi film
Jumat, Maret 28, 2008
Dikung Lebih Homo di Dunia Nyata
Hoh, ternyata terbukti, memang pengunjung blog ini kurang suka dicekokin sama tulisan-tulisan serius, atau at least tulisan yang ga terlalu serius tapi ditulis secara serius a.k.a. sesuai EYD. Gua jadi males pake gaya bahasa sok EYD, jadi berasa bukan gua. Maka dengan ini gua putuskan untuk kembali ke tabiat lama: nulis ga sesuai EYD.
Tau ga, tadi gua ke UNPAR loh. Ceritanya mau nonton talkshownya si Dikung. Awalnya rada males sih, soalnya gua ga tau sama sekali di mana posisi si Dikung bakal talkshow di UNPARnya. Saking butuhnya kejelasan tentang posisi tersebut (jangan bayangin posisi yang nggak-nggak ah -_-), gua sampe nge-sms Dikung pagi ini untuk nanyain itu. Gua tau nomer HP-nya Dikung loh, soalnya Dikung pernah ngirimin gua imel dan ngasih tau nomer. *ceritanya gua lagi pamer nih, jadi bagi para penggemar Dikung, silahkan iri sambil nangis-nangis darah, hahahahaha (ketawa setan)*
Tapi Dikung ga bales sms gua. Hiks.
Gua dan si pacar nyampe di UNPAR jam 13.10 WIB, sesuai dengan informasi yang ditulis di sini bahwa acara akan dimulai jam 13.00 WIB. Gila, gua tepat waktu banget ya..? Hohohoho.. *tepat waktu dari Hongkong*
Ya sih kita liat posternya, tapi kita ga liat ada kerumunan orang yang lagi talkshow di sekitar poster itu. Mahasiswa-mahasiswa yang lagi seliweran di sana juga ga tahu menahu tentang talkshow ini. Untungnya ada mas-mas penjaga parkir yang ngasih tau kita, itu pun pake kata "mungkin", hahaha..
Ternyata talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian acara "Pameran Pendidikan 2008" atau apalah namanya, gua ga terlalu hafal. Sebelumnya udah ada beberapa penulis lain yang talkshow di acara ini, termasuk Donny Dirgantara (5 cm), Moammar Emka (Jakarta Undercover), dan lain-lain... *gua jadi inget jaman SD kalo lagi ujian PPKn, di mana kata-kata "dan lain-lain" jadi primadona saat menjawab esai"
Ini dia penampakannya: (klik gambar untuk memperbesar)
Gua setuju dengan lu Dik, di dunia nyata lu lebih keliatan kecil dan homo
Para fans lagi serius dengerin Dikung ngebanyol
Ini posternya. Gua belum baca Radikus Makankakus loh...
*dasar fans murtad*
Yang ini agak gantengan dikit
Dikung bersama seorang fans, yang difoto secara jelas
Gua dan Dikungyang difoto secara blur
*dasar pacar kurang ajar!!! -_-*
Btw Dik, ini talkshow atau promosi sih? Kok keknya banyakan narsisnya, hahahaha.. Belajar sana, biar nilai UTS lu rada lumayan -_-
Diposkan oleh rime di 10:53 PM 6 komentar
Minggu, Maret 23, 2008
Kick Andy Edisi Rektor
Saya tidak menyangka bahwa kedatangan saya ke kampus Sabtu kemarin berbuntut pada menonton langsung acara talkshow Kick Andy. Talkshow berdurasi total 3 jam tersebut merupakan rangkaian acara ITB Expo yang berlangsung pada tanggal 22-23 Maret 2008 di kampus ITB.
Seorang teman memberitahu saya tentang talkshow ini saat kami makan siang bersama. Namun semangat untuk menonton presenter favorit saya tersebut redup seketika karena ternyata tiket masuk yang diberikan secara cuma-cuma hari ini telah habis terpesan. Beruntung saya dan si pacar sedang melintasi panggung saat seorang presenter menginformasikan adanya 50 buah tiket tambahan. Setelah mengantri selama setengah jam di tempat yang menurut saya tidak pantas digunakan sebagai tempat mengantri karena saat itu kami kehujanan, saya dan si pacar akhirnya mendapatkan the most wanted tickets of this day.
Tiket yang difoto dengan webcam *maksa banget :D*
Sebenarnya saya punya banyak catatan untuk dijadikan bahan introspeksi panitia acara talkshow ini, mulai dari kerja yang kurang efektif sampai membosankannya presenter pengantar sebelum Andy F. Noya tampil. Tapi yang paling saya sayangkan adalah penghamburan material yang dilakukan oleh panitia.
Malam itu saya mendapat suvenir berupa sebuah kantung berisi stiker, bolpoin, dan pin. Untuk kumpulan suvenir yang jumlahnya hanya 3 dan berukuran kecil, menurut saya adalah berlebihan jika dibungkus menggunakan kantung kertas semi plastik yang disablon secara full colour. Selain tidak efisien dalam penggunaan dan susah diurai oleh lingkungan, panitia pasti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memproduksi barang ini. Lagipula tidak ada yang dapat menjamin bahwa kantung ini akan digunakan kembali di lain waktu oleh penerima suvenir.
Untuk ukuran acara yang akan ditayangkan di stasiun televisi swasta nasional, menurut saya talkshow ini terlalu sarat akan narsisisme ITB, sehingga tema yang lebih pantas digunakan adalah "Energizing Indonesia with ITB's Various Creation" bukan "Energizing Indonesia with Our Various Creation" . Bagaimana tidak, 3 nara sumber utamanya adalah rektor dan mantan rektor ITB, masing-masing adalah Djoko Santoso, Kusmayanto Kadiman, dan Wiranto Arismunandar. Dan 2 narasumber lain adalah Fadoli (ketua HME ITB, anggota tim Palapa HME ITB) dan Riska, siswi SMP di Semarang yang memenangkan lomba penelitian ilmiah LIPI.
Menurut Pak Wiranto, kunci sukses seseorang terletak pada kedisiplinannya, pada sejauh mana seseorang berpegang teguh pada aturan yang telah ditetapkan. Jika selalu berdisiplin, niscaya manusia-manusia negeri ini akan sukses pada bidangnya masing-masing, dan bangsa ini akan maju dengan sendirinya.
"Setiap orang yang berhasil masuk kuliah di ITB dan menyisihkan saingan-saingannya, memiliki satu dosa". Pak Kus menyatakan bahwa setiap dosa tersebut akan hilang jika setelah lulus setiap pemilik dosa menciptakan lapangan pekerjaan, namun akan menjadi dua kali kipat jika ikut bersaing mencari pekerjaan. Yang beliau katakan adalah benar adanya, namun saya cukup geli mendengarnya, karena saya pribadi kuliah di perguruan tinggi ini dengan iming-iming akan mudah mencari pekerjaan setela lulus nanti, bukan bercita-cita menciptakan pekerjaan. Bahasan ini semakin menggelikan saat Bung Andy mengeluarkan sebuah anekdot "Berarti neraka isinya anak ITB semua, hahaha...."
Sedangkan Pak Djoko membahas topik ini dengan lebih menghubungkannya dengan dunia akademis. Menurut beliau, kampus harus menjadi tempat yang kondusif untuk melakukan kegiatan-kegiatan penelitian yang inovatif. Jika dibandingkan dengan kenyataan, sepertinya pernyataan ini kurang pas, karena yang saya rasakan selama kuliah 5 tahun di sini adalah kampus ini sangat minim fasilitas dan tidak banyak dana yang dialokasikan untuk menunjang kegiatan tersebut, lebih parah lagi saat ini kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa sangat-sangat dipaksa untuk dikurangi.
Fadoli dan Riska datang pada acara ini untuk mempresentasikan kegiatan inovatif yang telah mereka lakukan. Fadoli bersama Tim Palapa HME telah melakukan sebuah pembangunan dan pengelolaan PLTA mikrohidro berbasis masyarakat di salah satu desa di Garut. Sedangkan Riska menceritakan tentang penelitiannya yang menarik, yaitu penggunaan kubis merah sebagai pewarna, yang menghasilkan warna merah bila diberi asan, biru jika diberi basa, dan ungu jika netral. How inovative.Sebenarnya di negara ini banyak orang-orang pintar yang inovatif. Hanya saja mereka harus mengubur kembali ide-ide yang telah muncul karena keterbatasan dana dan perhatian dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Coba bayangkan, jika sebuah tugas akhir mahasiswa S1 di setiap perguruan tinggi di Indonesia dianggap sebagai sebuah penemuan baru, maka betapa kayanya bangsa ini akan ilmu dan betapa berpotensinya untuk maju. Namun tampaknya bangsa ini belum siap untuk hal itu, tercermin dari tingkat kedisiplinan yang rendah dan kebiasaan merendahkan diri sendiri.
Oya, ada satu hal lagi yang menggelitik saya saat itu, yaitu saat seorang calon presiden KM ITB periode 2008-2009 mengajukan pertanyaan kepada narasumber: "Apa core competence dari ITB sehingga berbeda dengan perguruan tinggi lainnya?" Hey girl, kampus ini diberi nama Institut Teknologi Bandung bukanlah tanpa maksud.
Secara keseluruhan talkshow ini saya nilai bagus dan menarik. Terima kasih kepada panitia ITB Expo yang telah mengusahakan acara ini berlangsung.
Diposkan oleh rime di 5:54 PM 4 komentar
Label: kampus, pendidikan, report
Buddies
- Adita Nanda Suryadi
- Agus Mawardi
- Angga Dwiartama
- Aria Hayu Pramesi
- Dian Novita Sari
- Fictor Ferdinand
- Fitri Mohan
- Harry Waluyo Sajati
- Ima Noor Puspitasari
- Isak Stoddard
- Lerry Martina
- Mirya Nirmala
- Mutiara Ayuningtias
- Nico Wijaya
- Nieke Essy
- Nilla Essy
- Novasyurahati Soekamto
- Nuri Nurlaila Setiawan
- Pak De Mbilung
- Rakhmi Ramdhani Said Halim
- Ridwan Nugraha
- Sandra Dee
- Sita Winiawati Dewi
- Siti Mudaliyanah
- Suci
- Tisya Adriana Ramadhani
- Yoppy Hidayanto
- Yulia
Categories
- baleg lah... (10)
- blog action day (1)
- buku (4)
- film (5)
- ga penting (26)
- kampus (24)
- keluarga (2)
- keur gelo (6)
- kmpa (2)
- kuliner (5)
- lucu-lucuan (1)
- musik (9)
- ngasal (1)
- pendidikan (10)
- personal (7)
- report (31)
- resensi film (2)
- seni (4)
- serius nih (5)
- sok biologi (6)
- teman-teman (23)
- tidaksepertibiasanya (2)
- uneg-uneg (12)
- unforgetable (5)
- vacation (8)
Archives
-
►
2007
(82)
-
►
Agustus
(10)
- I've Never Thought to Touch These Monsters Before
- Konfirmasi
- Paradigma Jongkok: Yang Lain Nothing
- OHU ITB 2007: Berbeda Itu Indah
- Rima Sok-Jago Ga-Tau-Malu Agustina
- Obot Surobot vs Adin Suradin
- Hepi Bersdey Tu As
- SSTB (Singkatan-singkatan Tidak Bertanggungjawab)
- Indonesia Raya Merdeka Merdeka
- Minggu Kesepian
-
►
Agustus
(10)







